Karya Misteri yang Cocok untuk Anak

posted on 02 Jun 2015 20:55 by klikgayahidupbaru
Belakangan ini, anak-anak dalam rumah - Selda dan Sellyn sering histeria sendiri dengan bayangan-bayangan buruk di angan-angan mereka. Mereka gak berani ke kamar mandi sendiri, tidak berani pergi ke di balik tanpa ditemani ataupun pada suatu putaran mereka ada di kamar sendiri, seketika menjerit sambil mengelak terbirit-birit mencari sahabat. Usut punya usut, mereka bilang waham karena ada roh jahat seperti diceritakan dalam sebuah cerpen teka-teki di sebuah corak terbaru majalah bani ternama di negeri.

Setelah saya mengucapkan kisah seperti secara mereka tunjukkan, saya jelaskan bahwa “itu hanya cerita angan-angan atau fantasi pengarangnya. Maka semua dengan ditulis itu tidak terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya.

Anak-anak serempak bilang, “Memang, ternyata yang selama ini mengetuk villa di tempat keluarga yang sedang berlibur itu bukan hantu, tapi tetangga villa yang tidak mau terdapat villa baru dalam bangun di deket lahannya. Tapi kenapa kalimat terakhir dalam tulisan itu dianggap kalau Tukang Kebon hanya mengetuk akses. Nah, yang bersuara ‘Jangan ganggu kami’ itu siapa? Berguna memang hantunya siap beneran, khan? ”

Saya berusaha menafsirkan bahwa semuanya fantasi. Mereka terus penentangan, “Tapi kalimat terakhirnya bilang, yang “bohongan” itu kisah seloroh Tukang kebon. Berbeda dengan hantunya ada beneran, ya yang bilang ‘Jangan ganggu aku’ itu. ”

Itulah sekilas contoh kasus tentang perlunya petunjuk terhadap materi khotbah anak yang tidak merumitkan proses pemikiran serta perkembangan anak. Anak-anak yang sama tadi sebelumnya sudah membaca organ “Midnight Stories”, yang diklaim sebagai union kisah nyata pengetahuan horor.

Misteri Dunia. Meronce sudah beberapa periode membaca buku-buku penjelajahan remaja, meskipun umur mereka masih interior kategori anak-anak. Tersebut sendiri suka menurun, sebagai kegiatan favorit di waktu santai. Maka saat hamba tunjukkan buku berkas kisah misteri “Midnight Sories”, mereka mengetes membaca sedikit, namun kemudian tidak siap berhenti membaca. Meskipun menjadi takut, itu terus ingin menyelesaikan buku itu. Itu berkomentar, ada cerita yang sangat bikin takut dan “menjijikkan”, ada yang sedang-sedang saja tingkat kengeriannya, dan ada satu cerita yang sebenarnya menakutkan, tapi kesudahannya bikin “adem”.

“Jadi hantu-hantu itu kadang sungguh mengerikan, akur? Itu benar terdapat khan? Sergah anak-anak.

Agar menghindari efek paranoid ataupun fobia, saya katakan bahwa semua kisah di buku itu seharga karangan. Mereka saya yakinkan bahwa ceritanya tidak benar-benar tercipta dalam hidup sehari-hari.

“Nah, tapi pada judulnya kan dicantumkan keterangan Based on True Stories, ” bantah mereka.

“Itu agar bukunya terasa lebih seru dan membuat orang salah hati dan ingin membacanya, ” jawab hamba mencoba diplomatis.

Perkenan salah satu tulisan yang mereka maksudkan ini saya baca juga. Anak-anak tidak waham membacanya karena, khususnya untuk tulisan yang “seru tapi hasilnya menenteramkan” itu. Anak-anak menunjukkan bagian penutupan kisahnya, yang pendapat mereka jadi gak takut lagi menafsirkan buku misteri mereka, bunyinya: “Namun percayalah, Tuhan Maha Menyimpan bagi siapa secara mengandalkan kehidupan ini hanya kepada KuasaNya. ”

Anak-anak tetaplah anak-anak. Otak itu mempunyai cara tertentu dalam menganalisis substansi yang mereka jumpai, yang mungkin gak pernah terlintas pada pikiran orang tua. Mereka sering mengejutkan kita dengan pertanyaan mengenai sesuatu hal luar biasa yang bahkan terjeblos dari perhatian aku, sebagai orang tua ataupun orang dewasa.

Comment

Comment:

Tweet