Rekreasi Hemat juga Asyik pada Pulau Pari

posted on 28 May 2015 12:24 by klikgayahidupbaru
Pernah mendengar Pulau Seribu? Semoga tahu, karena daerah ini merupakan kawasan wisata yang menari pada utara Jakarta. Jika mendengar Pulau Seribu, mungkin beberapa orang akan menyebut Pulau Tidung atau Pulau Pramuka. Nah, yang akan saya ceritakan kesempatan ini adalah tentang Pulau Pari. Saya bertepatan beberapa teman, bermain kesana di libur Lebaran tahun lalu …

Berbeda secara Pulau Tidung yang sudah ramai, travel pulau pari belum terlalu ramai. Pengelolaan wisatanya pun masih dalam kelola secara pernah. Maksudnya, pengunjung menginap di rumah keluarga-keluarga yang tinggal pada pulau itu. Margin dari sistem tersebut adalah biaya rekreasi yang murah. Memang “murah” selalu sebagai daya tarik para pelancong yang dananya tergesa-gesa hehehe … Tatkala itu kami bertambah dari Muara Angke, menyeberang dengan kulit besar yang mau mengantarkan ratusan penumpang ke berbagai Pulau di kawasan Pulau Seribu. Cukup Rp. 30. 000 pula …



Setibanya disana, kami disambut sama seorang warga yang menyewakan rumahnya guna pengunjung, namanya Pak Udin. Pak Udin mulai menjelaskan kegiatan-kegiatan yang bisa aku lakukan selama tiga hari itu. Mulai dari menikmati matahari surut di Pantai Pasir Perawan, mengunjungi LIPI, snorkeling, dan barbeque di malam ujung.

Rumah tempat aku menginap memiliki 2 ruangan yang tutup dilengkapi beberapa pembaringan. Maka kami saksama membagi ruangan jadi kamar cewek dan kamar cowok. Tersedia satu kamar membasuh besar dan satu ruang utama tempat semua peserta sanggup berkumpul. Rumah ini juga langsung menghadap ke laut, maka itu kami bisa bermain-main di tepi pesisir kapan pun aku mau.

Sore mula-mula di pulau tersebut kami habiskan dalam Pantai Pasir Perawan. Pasirnya putih bersih, segak untuk dipakai main. Ketika kami disana, air laut lumayan pasang sehingga kita tidak boleh main terlalu jauh, tapi tetap menyenangkan. Puluhan pengunjung juga lumayan menikmati pantai itu. Tidak terlalu hiruk-pikuk. Kami di rantau itu sampai matahari terbenam.

Pagi hari di hari kedua kami gagal mengamati matahari terbit sebab cuaca tidak berserikat. Seharusnya kami sanggup menikmatinya dari tepian dermaga tempat kita tiba. Sekitar sepuluh menit dari griya penginapan. Akhirnya abdi menghabiskan pagi tersebut dengan menikmati pemandangan laut dan udara yang begitu akrab. Biru bertemu biru.

Comment

Comment:

Tweet